Jenis-jenis Air

Jenis-jenis Air
Share

Oleh: Al ustadz Ali Shofi


Dalam ushul fikh, Air terbagi dalam dua jenis, yaitu:

1. AIR MUDHAF
a. Makna Air Mudhaf
Yang dimaksud dengan air mudhaf adalah air yang kepadanya tidak bisa dikatakan sebagai air dengan sendirinya
tanpa adanya penambahan dibelakang kata air.
Air ini bisa berupa:
– Air yang diambil dari sesuatu seperti air semangka, air mawar, air susu.
Atau
-Air putih yang tercampur dengan sesuatu yang lain seperti, kuah sayur, air teh, air kopi dll.
b. Hukum-hukum Air Mudhaf
b.1. Air mudhaf tidak mensucikan sesuatu yang najis.
b.2. Wudhu dan mandi dengan air mudhaf adalah batal.
Dalil air mudhof tak dapat digunakan untuk bersuci:
اذا كان الرجل لا يقدر على الماء و هو يقدر على اللبن فلا يتوضأ باللبن إنما هو الماء أو التيمم.
Imam Ja’far Shadiq as pernah ditanya,”jika seseorang tidak memiliki air dan yang ada hanya air susu maka janganlah berwudhu dengan air susu tersebut, diwajibkan baginya untuk bersuci dengan air atau bertayammum (jika tak ada air)
b.3. Air ini akan dihukumi najis ketika bertemu dengan benda najis (meskipun najisnya hanya sedikit dan tidak
merubah bau, warna atau rasa air, dan meskipun air
mudhaf tersebut sangat banyak).
Dalil air mudhof menjadi najis jika terkena benda najis :
سألت أبا الحسن عليه السلام عن قطرة خمر أو نبيذ مسكر قطرت في قدر فيه مرق ولحم كثير فقال (ع): يهراق المرق أو يطعمه أهل الذمة أو الكلاب واللحم اغسله وكله
Aku bertanya kepada Imam Ali as, tentang setetes khomer yg masuk ke panci yg ada kuah dan daging yang banyak, imam as menjawab,” Buanglah kuahnya atau diberikan kepada selain muslim atau kepada anjing, adapun dagingnya dicuci lalu boleh dimakan (Jaami’ al-ahaadits bab 13 hadits 1)
عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن أمير المؤمنين عليه السلام قد سئل عن قدر طبخت فإذا في القدر فأرة قال: يهراق مرقها ويغسل اللحم ويؤكل
Imam Jafar as-Shodiq as berkata : Amirul muminin as pernah ditanya, jika panci (yg berisi kuah) kemasukan tikus (yg telah mati) maka Imam Ali as berkata: kuahnya harus dibuang dan dagingnya dicuci dan setelah itu (dagingnya) boleh dimakan.
(Jami’ul Ahaadits bab 13 hadist 2)

0 Response

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel